Esai 1_Review Jurnal_Psi Lingkungan_Nina Wahyu Tristanti_25310410027

 

RESUME JURNAL DENGAN JUDUL:

“Pengaruh Dukungan Sosial dan Penggunaan Media Sosial Terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Domestik” 

MATA KULIAH PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Tugas Esai 1 – Meringkas Jurnal Sampah


Dosen Pengampu:

Dr, Dra. Arundati Shinta, M.A.

Oleh:

NINA WAHYU TRISTANTI_NIM. 25310410027

Kelas Karyawan (Psikologi B)


Judul:
Pengaruh Dukungan Sosial dan Penggunaan Media Sosial Terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Domestik

Topik:
Dukungan Sosial, Media Sosial, Perilaku Pengelolaan Sampah, PLS_SEM, Pemberdayaan Masyarakat

Sumber:
Adi Firmansyah dan Sumardjo. (2026). Pengaruh Dukungan Sosial dan Penggunaan Media Sosial terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Domestik. JPI: Jurnal Pendidikan IPS, Vol. 16. No. 4. hal. 560-570.
DOI: https://doi.org/10.37630/jpi.v16i4.4774.

Permasalahan:

Pengelolaan sampah rumah tangga adalah isu kritis di Indonesia (38,4% dari total 19,3 juta ton sampah per tahun berasal dari rumah tangga), diperburuk oleh rendahnya partisipasi, kesadaran, pemilahan, dan daur ulang masyarakat. Akar masalah dari tingginya timbulan sampah rumah tangga adalah rendahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat. Hal ini terlihat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, minimnya praktik pemilahan, dan rendahnya partisipasi dalam program daur ulang. Berbagai regulasi telah diterbitkan pemerintah, antara lain Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017, namun implementasinya masih terbatas akibat rendahnya keterlibatan masyarakat. Transformasi perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah memerlukan pendekatan yang holistik. Di antara berbagai faktor yang memengaruhi perilaku, dukungan sosial dan penggunaan media sosial menjadi dua variabel yang semakin relevan di era digital.Terdapat kesenjangan literatur mengenai bagaimana dukungan sosial dan penggunaan media sosial secara simultan memengaruhi perilaku pengelolaan sampah, khususnya dalam konteks program CSR berbasis komunitas di Indonesia.


Tujuan Penelitian:

  1. Mendeskripsikan tingakt dukungan sosial, penggunaan media sosial, dan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga.
  2. Menganalisis pengaruh dukungan sosial dan penggunaan media sosial terhadap perilaku pengelolaan sampah rumah tangga.

Landasan Teori:

  1. Theory of Planned Behavior (TPB) (Ajzen, 1991) yang menjelaskan bahwa Perilaku ditentukan oleh niat yang dibentuk oleh sikap, norma subjektif (terkait erat dengan dukungan sosial), dan persepsi kontrol perilaku
  2. Teori Dukungan Sosial (House, 1981; Cobb, 1976) yang menjelaskan bahwa dukungan sosial terdiri dari empat dimensi: emosional, instrumental, informasional, dan penilaian, yang bekerja mengurangi hambatan psikologis dalam mengadopsi perilaku baru.
  3. Teori Dukungan Sosial (House, 1981; Cobb, 1976) yang menjelaskan bahwa dukungan sosial terdiri dari empat dimensi: emosional, instrumental, informasional, dan penilaian, yang bekerja mengurangi hambatan psikologis dalam mengadopsi perilaku baru.

 Metode:

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan dilakukan pada sembilan desa di Jawa Barat dan Jawa Timur yang menjadi lokasi program pendampingan pengelolaan sampah berbasis Corporate Social Responsibility (CSR). Pengumpulan data dilakukan Januari–Maret 2024 dengan 245 responden yang dipilih menggunakan metode sensus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, kuesioner terstruktur, dan dokumen pendukung. Variabel penelitian terdiri atas dukungan sosial, penggunaan media sosial, dan perilaku pengelolaan sampah domestik. Perilaku pengelolaan sampah diukur melalui pengurangan, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengolahan sampah. Analisis hubungan antarvariabel menggunakan Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS.


Hasil:

Responden penelitian ini didominasi ibu rumah tangga (40,4%), rata-rata usia 39 tahun, dengan motivasi utama pengelolaan sampah adalah mewujudkan lingkungan bersih dan sehat (91,4%). Perilaku pengelolaan sampah berada pada kategori sedang, dengan indeks sebesar 65,68. Penggunaan kembali memperoleh indeks tertinggi, sedangkan daur ulang merupakan indikator dengan indeks terendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian praktik pengelolaan sampah telah dilakukan, tetapi masih terdapat ruang untuk memperkuat perilaku pemilahan, daur ulang, dan pengolahan. Dukungan sosial juga berada pada tingkat sedang. Dukungan keluarga dan kelompok atau komunitas memiliki indeks 64,76, dukungan pemerintah setempat 64,35, dukungan tetangga 62,45, dan dukungan kader lokal 62,31. Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sosial dapat menyediakan dorongan, fasilitas, informasi, dan penguatan norma yang membantu masyarakat menjalankan perilaku pengelolaan sampah. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pengelolaan sampah (β = 0,483; p = 0,000). Penggunaan media sosial juga berpengaruh positif dan signifikan (β = 0,225; p = 0,008). Model penelitian mampu menjelaskan 45,2% variasi perilaku pengelolaan sampah (R² = 0,452). Effect size dukungan sosial sebesar 0,173 termasuk kategori sedang, sedangkan media sosial sebesar 0,038 termasuk kategori kecil. Dengan demikian, penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki kontribusi empiris yang lebih besar dalam model dibandingkan penggunaan media sosial, walaupun keduanya berhubungan positif dengan perilaku pengelolaan sampah.


Diskusi:

Dukungan sosial adalah prediktor terkuat dari perilaku pengelolaan sampah. Sinergi antara keluarga, komunitas, pemerintah desa (regulasi/infrastruktur), dan kader lokal menciptakan ekosistem yang tidak hanya memperkuat norma subjektif, tetapi juga meningkatkan perceived behavioral control (kontrol perilaku yang dipersepsikan) dengan mengurangi hambatan struktural. Pada penelitian ini, peran media sosial belum optimal domana meskipun berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan sampah, media sosial belum dimanfaatkan secara maksimal. Kualitas partisipasi (diskusi dan berbagi informasi) jauh lebih berdampak daripada sekadar frekuensi akses. Rendahnya skor diskusi online menunjukkan bahwa media sosial baru berfungsi pada tataran pembentukan sikap, belum optimal dalam memodifikasi norma subjektif. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disampaikan rekomendasi bahwa upaya perubahan perilaku harus memprioritaskan penguatan jejaring sosial nyata (kader lokal dan pemerintah desa) serta mengoptimalkan platform media sosial (seperti grup WhatsApp dan Instagram) untuk dijadikan media edukasi dan diskusi dua arah yang aktif, bukan hanya saluran penyebaran informasi satu arah.

 

 








 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai 1_Review Jurnal_Psi Lingkungan_Muhamad Ridho Rasyidin_25310410005