Essai 1 Review Jurnal Psikologi Lingkungan dengan Topik Sampah dan Perilaku oleh Amirul Iqshan
ESSAI 1
REVIEW JURNAL PSIKOLOGI LINGKUNGAN
NIM : 25310410019
https://doi.org/10.30588/jpsi.v21i1.2172
Permasalahan utama yang diangkat adalah adanya kemungkinan kesenjangan antara sikap dan perilaku dalam pengelolaan sampah. Seseorang dapat memahami pentingnya menjaga kebersihan dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tetapi belum tentu menerapkan pemahaman tersebut dalam perilaku sehari-hari.
Penulis mengidentifikasi bahwa kesibukan akademik, kemalasan, serta keterbatasan fasilitas pemilahan sampah dapat menjadi hambatan bagi mahasiswa dalam mengelola sampah. Gambaran awal tersebut diperoleh melalui wawancara terhadap enam mahasiswa, yang terdiri atas tiga laki-laki dan tiga perempuan. Temuan awal ini memberikan konteks terhadap permasalahan penelitian, meskipun jumlah informan tersebut belum dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh populasi mahasiswa.
Dari sudut pandang psikologi lingkungan, persoalan tersebut menunjukkan bahwa perilaku tidak selalu ditentukan oleh sikap individual. Kesempatan untuk bertindak, ketersediaan fasilitas, kebiasaan, serta kondisi lingkungan tempat tinggal juga berpotensi memengaruhi tindakan seseorang. Dengan demikian, memahami kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan memerlukan perhatian terhadap sikap pribadi sekaligus situasi yang mendukung atau menghambat perilaku tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap dan perilaku pengelolaan sampah pada mahasiswa yang tinggal di rumah pondok di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan perilaku pengelolaan sampah berdasarkan jenis kelamin.
Kedua tujuan tersebut berkaitan dengan upaya memahami faktor psikologis yang berhubungan dengan perilaku prolingkungan. Melalui pengujian hubungan antara sikap dan perilaku, penelitian ini berusaha mengetahui apakah mahasiswa yang memiliki sikap lebih positif terhadap pengelolaan sampah juga menunjukkan perilaku pengelolaan sampah yang lebih baik.
Artikel diawali dengan pembahasan mengenai persoalan sampah dan pentingnya perilaku pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari. Penulis kemudian menghubungkan permasalahan lingkungan tersebut dengan karakteristik mahasiswa yang tinggal di rumah pondok. Mahasiswa dipilih sebagai subjek penelitian karena aktivitas akademik dan kehidupan mandiri mereka dapat memengaruhi kebiasaan pengelolaan sampah.
Penelitian dilanjutkan dengan pengukuran sikap dan perilaku menggunakan skala Likert. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui gambaran kedua variabel, hubungan di antara keduanya, serta perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin.
Pada bagian pembahasan, penulis menyoroti kemungkinan adanya kesenjangan antara sikap dan perilaku. Mahasiswa dapat memiliki sikap yang cukup positif terhadap pengelolaan sampah, tetapi perilaku mereka belum tentu mencerminkan sikap tersebut secara konsisten. Penulis mengaitkan kondisi ini dengan kesibukan, keterbatasan fasilitas, dan faktor lingkungan sosial.
Secara keseluruhan, artikel berusaha memperlihatkan bahwa persoalan pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan atau kepedulian individu, melainkan juga dengan bagaimana sikap tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 100 mahasiswa kos di Kabupaten Sleman, terdiri atas 57 laki-laki dan 43 perempuan. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik non-probability sampling dengan metode snowball sampling. Responden disyaratkan terbiasa memasak minimal tiga kali seminggu, telah tinggal di kos sekurang-kurangnya tiga bulan, minimal menempuh semester lima, dan pernah mengikuti perkuliahan yang berkaitan dengan ilmu lingkungan.
Data dikumpulkan menggunakan Skala Sikap dan Skala Perilaku Pengelolaan Sampah. Penulis melaporkan nilai reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,910 untuk skala sikap dan 0,846 untuk skala perilaku. Analisis meliputi statistik deskriptif, pengujian asumsi, korelasi Pearson, serta uji perbedaan berdasarkan gender.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47% responden memiliki sikap dalam kategori tinggi, sedangkan 59% memiliki perilaku pengelolaan sampah dalam kategori sedang. Hasil korelasi Pearson pada bagian hasil menunjukkan koefisien sebesar 0,116 dengan signifikansi 0,278. Dengan demikian, penelitian tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara sikap dan perilaku pengelolaan sampah pada sampel tersebut. Penulis juga melaporkan tidak adanya perbedaan perilaku pengelolaan sampah yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan.
Temuan penelitian memberikan ruang untuk membahas keterbatasan pendekatan yang hanya menekankan sikap individu dalam menjelaskan perilaku prolingkungan. Sikap positif terhadap pengelolaan sampah dapat menjadi salah satu aspek psikologis yang relevan, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari mungkin bergantung pada berbagai kondisi lain. Mahasiswa yang memahami pentingnya memilah sampah, misalnya, dapat mengalami kesulitan melakukannya apabila tempat tinggalnya tidak menyediakan fasilitas pemilahan yang memadai.
Penulis menghubungkan kesenjangan antara sikap dan perilaku dengan konsep disonansi kognitif. Secara umum, konsep ini berkaitan dengan ketidaknyamanan psikologis ketika keyakinan, sikap, atau tindakan seseorang tidak selaras. Meskipun demikian, hasil korelasi yang tidak signifikan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa disonansi kognitif terjadi pada responden. Penelitian ini tidak secara langsung mengukur disonansi kognitif sebagai variabel, sehingga konsep tersebut lebih tepat dipahami sebagai salah satu kemungkinan penjelasan teoretis, bukan kesimpulan empiris yang telah dibuktikan.
Pembahasan mengenai fasilitas, kesibukan akademik, dan lingkungan sosial juga menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor situasional. Akan tetapi, karena faktor-faktor tersebut tidak diuji secara langsung sebagai variabel penelitian, kontribusi masing-masing faktor terhadap perilaku pengelolaan sampah belum dapat dipastikan. Penelitian lanjutan dapat mengukur norma sosial, ketersediaan fasilitas, kebiasaan, pengetahuan, serta persepsi kemudahan atau kesulitan dalam mengelola sampah untuk memperoleh penjelasan yang lebih menyeluruh.
Dari sisi metodologi, penggunaan sampel yang lebih beragam dan teknik pengambilan sampel yang memungkinkan keterwakilan populasi lebih baik dapat membantu memperkuat generalisasi hasil. Selain itu, pengukuran perilaku melalui laporan diri berpotensi dipengaruhi oleh keinginan responden untuk memberikan jawaban yang dianggap baik secara sosial. Pengamatan langsung atau pencatatan perilaku aktual dapat digunakan sebagai pelengkap untuk mengurangi keterbatasan tersebut.
Secara kritis, penelitian ini tetap memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa hubungan antara sikap dan perilaku pengelolaan sampah tidak dapat diasumsikan begitu saja. Namun, kesimpulan mengenai faktor-faktor yang menjelaskan perilaku tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Perlu dibedakan antara hasil yang benar-benar ditemukan melalui analisis statistik dan penjelasan teoretis yang diajukan untuk memahami hasil tersebut.
Artikel ini membahas persoalan yang relevan dalam psikologi lingkungan, yaitu hubungan antara sikap dan perilaku pengelolaan sampah pada mahasiswa yang tinggal di rumah pondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap terhadap pengelolaan sampah dalam kategori sedang hingga tinggi, sementara perilaku mereka mayoritas berada dalam kategori sedang. Meskipun demikian, analisis statistik tidak menemukan hubungan yang signifikan antara sikap dan perilaku maupun perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin.
Kekuatan artikel terletak pada upayanya menguji persoalan sikap dan perilaku melalui data empiris serta mengaitkannya dengan kondisi kehidupan mahasiswa. Adapun keterbatasannya meliputi teknik pengambilan sampel, penjelasan asumsi statistik, ketidakkonsistenan angka korelasi pada abstrak dan hasil, serta belum diuji secara langsungnya faktor situasional yang dibahas dalam diskusi.
Dengan demikian, artikel ini memperlihatkan pentingnya memahami perilaku pengelolaan sampah sebagai persoalan yang tidak cukup dijelaskan melalui sikap individu saja. Namun, diperlukan penelitian lanjutan dengan pengukuran yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi faktor psikologis dan lingkungan yang berkaitan dengan perilaku tersebut secara lebih meyakinkan.
Komentar
Posting Komentar