ESAI 1- Meringkas Jurnal Psikologi Lingkungan dengan Topik Sampah dan Perilaku - FAIZ IHSANUL KAMIL - 25310410034

Sampah dan Perilaku: Peran Kebiasaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Faiz Ihsanul Kamil

25310410034

Psikologi Kelas Karyawan B

Psikologi Lingkungan

Tugas Esai Ke 1 – Meringkas Jurnal Sampah

   Dosen : Dr. Arundati Shinta, M.A. 


Topik

Sampah dan perilaku manusia dalam pengelolaan sampah rumah tangga, terutama kebiasaan memilah, mendaur ulang, dan mengurangi sampah.           

Sumber

Asih, A. M. S., Prasetyo, D. H., & Sopha, B. M. (2026). Household recycling behavior and community-based waste management: An agent-based modeling of socioeconomic heterogeneity in urban Indonesia. Journal of Environmental Management, 399, 128658. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2026.128658

Permasalahan

Sampah masih menjadi permasalahan lingkungan karena jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat tidak selalu diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Keberadaan tempat sampah, fasilitas daur ulang, dan teknologi pengolahan belum tentu menyelesaikan masalah apabila masyarakat tidak memiliki kebiasaan memilah dan mengolah sampah. Selain itu, sebagian masyarakat masih mencampurkan sampah organik dan anorganik sehingga sampah yang sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali justru berakhir di tempat pembuangan akhir.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku masyarakat, tingkat pengetahuan, kondisi ekonomi, serta kebijakan pengelolaan sampah memengaruhi kebiasaan memilah dan mengolah sampah rumah tangga. Penelitian ini juga mengkaji strategi yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Isi

Penelitian Asih, Prasetyo, dan Sopha (2026) menjelaskan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas atau teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan kondisi sosial ekonomi. Penelitian ini mengambil konteks Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta, dengan memperhatikan interaksi antara rumah tangga, bank sampah, dan pengelola sampah organik. Masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang lingkungan cenderung lebih terdorong untuk memilah sampah. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu membuat mereka mengolah sampah secara menyeluruh. Sebagian masyarakat hanya melakukan pemilahan, sedangkan sampah yang telah dipisahkan tetap berakhir di tempat pembuangan akhir karena keterbatasan fasilitas pengolahan atau jalur penyaluran sampah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku harus didukung oleh sistem pengelolaan yang memadai. Edukasi, insentif ekonomi, dan dukungan komunitas diperlukan agar kebiasaan memilah sampah dapat berlanjut menjadi tindakan nyata.

Metode

Penelitian ini menggunakan pemodelan berbasis agen (agent-based modeling), yaitu metode simulasi untuk menggambarkan interaksi dan pengambilan keputusan berbagai pihak dalam sistem pengelolaan sampah. Model disusun berdasarkan data empiris dan distribusi fasilitas pengelolaan sampah. Peneliti membandingkan tiga intervensi, yaitu peningkatan pengetahuan, perubahan biaya layanan sampah, dan sistem Pay-As-You-Throw (PAYT), yaitu pembayaran berdasarkan jumlah sampah yang dibuang.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan mendorong pemilahan sampah pada seluruh kelompok pendapatan, tetapi belum menjamin pengolahan sampah secara menyeluruh. Biaya layanan sampah juga dapat meningkatkan pemilahan, tetapi berpotensi membuat sebagian sampah yang telah dipilah kembali berakhir di tempat pembuangan akhir. Sementara itu, sistem PAYT menghasilkan keseimbangan yang lebih baik antara pengurangan sampah campuran dan peningkatan pengolahan sampah.

 

Diskusi

Berdasarkan penelitian tersebut, perilaku masyarakat merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal apabila masyarakat masih membuang sampah sembarangan atau tidak memilah sampah sejak dari rumah. Oleh karena itu, solusi sampah tidak cukup hanya dengan menambah tempat sampah dan fasilitas pengolahan, tetapi juga perlu membangun kebiasaan yang konsisten melalui edukasi, keteladanan, insentif, dan keterlibatan masyarakat.

Meskipun demikian, perilaku bukan satu-satunya faktor penentu. Fasilitas yang mudah dijangkau dan sistem pengangkutan yang baik tetap dibutuhkan. Dengan demikian, pengelolaan sampah yang efektif harus menggabungkan perubahan perilaku manusia dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat.

 

Kesimpulan

pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan perilaku manusia. Sebelum mengandalkan teknologi yang canggih, masyarakat perlu membangun kebiasaan membuang dan memilah sampah dengan benar. Apabila perilaku tersebut didukung oleh fasilitas dan kebijakan yang tepat, pengelolaan sampah akan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai 1_Review Jurnal_Psi Lingkungan_Muhamad Ridho Rasyidin_25310410005