Esai 2_Plogging

 

Nama                          : Nofita Damayanti Hapsari Putri

NIM                             : 25310410046

Kelas                            : B (Karyawan)

Mata Kuliah                 : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, MA

 

Mengubah Setiap Langkah Menjadi Lebih Berarti

Sepertinya sadar menjadi sehat ini timbul karena faktor usia yang menuju senja, sehingga diantara padatnya pekerjaan harus meluangkan waktu untuk olahraga. Bila olahraga tidak pernah dilakukan saat masih muda, tentu mengawalinya adalah hal berat. Maka mulailah dari olahraga yang mudah dilakukan dan tidak terlalu berat untuk mengawalinya, yaitu jalan santai. Akan lebih bermakna bila olahraga santai ini tidak hanya sebatas olahraga yang dilakukan, tapi peduli dengan lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Rute jalan santai pagi ini, hari Minggu tanggal 27 September 2026 pukul 05.00 – 06.00 yang dimulai dari rumah menuju jalan raya Jogja – Magelang – Blambangan – Karanggayam – Sanggrahan – Rumah. Jarak tempuh jalan santai pagi ini kurang lebih 2 km, cukup untuk membakar kalori dalam tubuh untuk mengawali olahraga.   Udara pagi yang segar saat melintasi jalan tidak sepenuhnya bisa dinikmati karena pandangan yang terganggu dengan sampah yang berserakan di jalan yang saya lewati. Sampah dan perilaku manusia memang berhubungan sangat erat. Sampah bukan sekedar masalah lingkungan melainkan cermin kebiasaan, value, dan pola hidup Masyarakat. Perilaku buang sampah sembarangan sepertinya bersumber dari kurangnya kesadaran, minimnya rasa memiliki pada public area, atau mungkin dalam pikiran banyak orang bahwa sampah adalah tanggung jawab tukang sampah yang sudah di bayar. Dalam perjalanan pagi pertama, sampah yang saya temui 98% kemasan minuman dalam packaging gelas plastic. Dari es teh jumbo home made yang di jual melalui booth-booth di pinggir jalan sampai teh dan kopi buatan pabrik. Dari perjalanan pagi yang pertama ini saya juga menjadi semakin mengerti kenapa anak muda saat ini banyak yang harus mengalami penyakit Diabetes Melitus hingga harus cuci darah, karena terlihat dari sampah yang saya temukan hampir kebanyakan kemasan minuman berperisa tinggi. Pola konsumtif yang terjadi di masyarakat tidak hanya menyebabkan tumpukan sampah yang belum ada jalan keluarnya juga mengakibatkan penyakit. Kegiatan ini saya post dalam media sosial saya sebagai wujud pengingat bagi saya bahwa peduli sampah bukan hanya sekedar tugas kuliah, tapi tanggung jawab setiap orang.

Facebook https://www.facebook.com/share/p/1C2V4LsQhe/

Instagram https://www.instagram.com/reel/DeEZgNlzeVy/?stkn=MXB2MXRjd3E0NnhxeA==

Threads https://www.threads.com/share/BAWGawanaq/

          

Jalan santai di minggu berikutnya saya lakukan pada hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2026 pukul 05.00 – 06.00. Start dari rumah – jalan sawangan-blabak – sanggrahan – karanggayam – sirat – jetak – jalan Jogja- Magelang – Rumah. Jarak tempauh yang saya lakukan kurang lebih 3 km. Ada penambahan jarak lebih panjang sedikit, agar kalori semakin banyak yang terbakar, tidak menjadi sampah dalam tubuh yang mengakibatkan penyakit. Dalam perjalanan kedua ini masih sama permasalahan yang saya temui yaitu perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya. Dan hampir sama yang saya temui jenis sampahnya bungkus rokok, plastic kresek berbagai ukuran, plastic kemasan minuman berperisa tinggi berbagai merk.

                 

Kegiatan plogging ke dua ini saya bagikan pada media sosial yang saya miliki, sebagai komitmen bahwa saya belajar lebih peduli terhadap lingkungan.

Facebook https://www.facebook.com/share/p/18bmdFShq2/

Instagram https://www.instagram.com/reel/DeStTfrzTIG/?obrf=aGtyamJyeWIwZTlw

Threads https://www.threads.com/share/_9AmWdqZn/

 

Saran

Dalam era saat ini pencarian akan gaya hidup yang seimbang mendorong lahirnya berbagai inovasi aktivitas fisik. Salah satu gerakan yang menarik perhatian adalah plogging—jalan santai atau joging ringan sambil memungut sampah di sepanjang jalan yang dilalui. Fenomena ini tidak sekadar olahraga biasa. Aktivitas ini menggambarkan upaya sehat dan peduli dalam satu waktu. Bila setiap orang yang melakukan jalan Santai atau jogging sambil memungut sampah tentu lingkungan sekitar ini menjadi bersih, dan bila kegiatan ini disosialisasikan kepada warga masyarakat pentingnya berolahraga dan pentingnya lingkungan bersih dari berbagai segmen usia, permasalahan sampah di negara tercinta kita ini akan sedikit terurai.

 

Kesimpulan

Dimensi sehat dalam aktivitas ini tidak hanya merujuk pada kebugaran fisik, melainkan juga restorasi mental. Ruang terbuka dan alam yang sehat menyediakan gemersik daun, angin segar, dan pemandangan visual yang dinamis. Elemen-elemen ini memberi kesempatan bagi manusia untuk beristirahat dari kelelahan kognitif harian. Berjalan santai menjadi sarana untuk meredakan stres mental dan mengembalikan fokus psikologis.

Sementara itu, dimensi peduli hadir ketika individu secara sadar merespons kondisi lingkungannya. Sampah yang berserakan di ruang publik dipersepsikan sebagai pemicu kecemasan dan menurunkan estetika. Lingkungan yang kotor dan tidak terawat memancarkan isyarat norma bahwa ketidakpedulian dapat dimaklumi, yang pada akhirnya mendorong perilaku merusak lainnya. Dengan mengambil langkah aktif memungut sampah, seorang individu sedang melakukan intervensi lingkungan untuk menekan stresor visual tersebut sekaligus menegakkan norma sosial yang bersih.

Integrasi antara upaya sehat dan peduli ini melahirkan konsep hangdarbeni. Ketika seseorang menginvestasikan waktu dan tenaga fisiknya untuk merawat suatu jalur lintasan jogging, tumbuh rasa kepemilikan psikologis terhadap ruang publik tersebut. Ruang terbuka yang tadinya terasa asing atau anonim berubah menjadi tempat yang bermakna. Keterikatan emosional ini memperkuat norma personal individu untuk terus menjaga kebersihan di masa depan, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Secara sosial, aksi nyata ini juga mentrigger perilaku yang kuat bagi masyarakat sekitar. Ketika publik menyaksikan seseorang berjalan santai sambil memungut sampah tanpa rasa canggung, persepsi kolektif tentang tanggung jawab lingkungan akan bergeser. Aksi individual ini mampu memecah sikap apatis terhadap lingkungan dan menginspirasi norma sosial baru.

Sebagai kesimpulan, gerakan jalan santai sambil memungut sampah mengaitkan secara sempurna kesehatan diri dengan kepedulian pada alam. Psikologi lingkungan membuktikan bahwa hubungan manusia dan lingkungan bersifat timbal balik (reciprocal). Melalui upaya sederhana yang sehat dan peduli ini, kita menyadari satu hal mendasar: ketika kita bertindak untuk menyembuhkan dan merawat lingkungan sekitar, pada saat yang sama kita juga sedang memulihkan dan merawat diri kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai 1_Review Jurnal_Psi Lingkungan_Muhamad Ridho Rasyidin_25310410005