Esai 2_Plogging_Ninik Wulandari_25310410021_Kelas B_Psikologi Lingkungan_Dr. Arundati Shinta M.A
Tugas
Melakukan Plogging
Mata
Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A
Nama : Ninik Wulandari
Kelas
: B (Karyawan)
NIM
: 25310410021
Bulan
& Tahun Terbit : Oktober 2026
Catatan
Pribadi tentang Plogging
Sebelum
mencoba plogging, saya sama sekali tidak terbiasa memungut sampah yang
berserakan di jalan. Saat jalan kaki atau jogging, fokus saya hanya pada
olahraganya saja, misalnya mengatur kecepatan dan menikmati suasana di sekitar.
Kalau melihat sampah di tepi jalan, biasanya saya hanya melirik lalu lewat saja
karena merasa bukan saya yang membuangnya dan nanti ada petugas kebersihan yang
membersihkannya. Saya dulu juga mengira berhenti sejenak untuk mengambil sampah
hanya akan mengganggu kelancaran olahraga saya. Berangkat dari kebiasaan itu,
saya ingin mengubah cara menyikapi sampah dengan menggabungkannya bersama hobi
yang saya sukai, yaitu berjalan dan jogging.
Plogging Sesi 1
Sesi plogging pertama saya jalani pada 4 Oktober 2026, mulai jam 16.00 sampai 17.15. Saya jogging santai dari rumah sampai ke Lapangan Trirenggo, Bantul. Di pinggir jalan ada sampah kertas dan plastik yang awalnya mau saya lewati saja. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk memungutnya. Sampai di rumah saya mengambil timbangan dan mendapatkan berat total sampahnya sekitar 0,35 kg dan saya bawa pulang. Sesampainya di rumah, sampah itu langsung saya pilah menurut jenisnya. Yang masih bernilai saya sisihkan untuk bank sampah, sisanya yang sudah tak terpakai jadi sampah residu. Rasa puas muncul saat saya melihat sampah yang sudah saya kumpulkan dan pilah, karena usaha kecil itu ternyata memberi hasil yang nyata.
Plogging Sesi 2
Kegiatan kedua saya jalani pada tanggal 5 Oktober 2026, jam 16.00 hingga 18.10. Kali ini saya plogging dari rumah ke pasar Bantul dan Masjid Agung Bantul. Saat melihat sampah kertas dan plastik lagi, saya jadi lebih sigap untuk langsung memungutnya. Saya mengumpulkan lagi sekitar 0,38 kg dan sampah yang saya pungut saya bawa pulang lagi dan kemudian saya pilah sesuai jenisnya. Jika sudah terkumpul akan saya bawa ke bank sampah.
Kejadian
ini bisa dipahami lewat teori operant conditioning, di mana sebuah kebiasaan
jadi lebih sering terulang kalau ada akibat tertentu yang muncul sesudahnya.
Saat saya berjalan kaki atau jogging, pemandangan sampah di sepanjang jalan
menjadi pemicu yang mendorong saya untuk memungutnya. Begitu saya memutuskan
untuk berhenti sejenak dan memungut sampah itu, saya merasakan dampak positif
seperti kepuasan karena lingkungan jadi lebih bersih, senang melihat sampah
yang terkumpul, dan tetap bisa melanjutkan olahraga dengan nyaman. Perasaan
puas dan pengalaman baik itu menjadi penguatan positif, karena hadir tepat
setelah saya memungut sampah dan membuat saya semakin ingin mengulanginya lagi
nanti. Perbedaannya tampak jelas antara kegiatan di hari pertama dan hari
kedua. Di awal kegiatan saya masih bimbang dan agak malas untuk berhenti
sejenak. Karena ternyata memungut sampah tidak sesulit yang saya kira dan
justru memberi kepuasan, di kesempatan kedua saya jadi lebih sigap langsung
mengambil sampah begitu melihatnya. Dari kegiatan pertama itu saya mendapat
bekal, jadi keinginan untuk memungut sampah terasa lebih besar di kegiatan
selanjutnya. Selesai ikut plogging dua kali, saya jadi lebih peka melihat
sekeliling saat jalan kaki dan lebih peduli pada sampah yang saya buat sendiri.
Walau kebiasaan ini belum sepenuhnya terbentuk dalam diri saya, cara saya
menanggapi sampah yang berserakan sudah mulai berubah. Menurut saya, plogging
membuktikan kalau kepedulian pada lingkungan bisa tumbuh dari kegiatan yang simpel
dan seru. Saat tindakan itu berbuah hal baik, rasanya saya jadi makin semangat
untuk melakukannya lagi.


Komentar
Posting Komentar