Esai 4 Komitmen Pengelolaan Sampah
Nama : Nofita Damayanti Hapsari Putri
NIM : 25310410046
Kelas : B (Karyawan)
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA
Sedekah Jelantah dan Botol Bekas: Menanamkan Komitmen Peduli Sampah dari Sekolah hingga Rumah
Masalah sampah sering kali dianggap sebagai urusan tukang sampah, dinas kebersihan atau pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semata. Padahal, muara dari tumpukan sampah sebenarnya bermula dari kebiasaan sehari-hari di dalam rumah tangga. Dan sumbangan terbesar sampah adalah dari limbah rumah tangga. Menyadari hal tersebut, sebuah gerakan peduli lingkungan tidak akan berdampak panjang jika hanya berhenti di dalam ruang kelas. Pendidikan karakter lingkungan yang kuat memerlukan sinergi yang erat antara sekolah, siswa, dan orang tua wali di rumah.
Sebagai seorang pendidik, saya percaya bahwa membangun kesadaran lingkungan pada murid harus diawali dengan contoh nyata yang mudah dilakukan. Oleh karena itu, di sekolah tempat saya mengajar, kami menginisiasi sebuah program komitmen bersama yang melibatkan peran aktif para orang tua wali murid. Program ini sederhana, namun memiliki dampak edukatif yang luar biasa: sedekah jelantah dan pengumpulan botol bekas.


Gerakan Sederhana dengan Impact Nyata
Setiap minggunya, para murid membawa sedekah minyak goreng sisa (jelantah) dari rumah ke sekolah. Tidak harus banyak, cukup minimal dua sendok makan. Minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja ke saluran air dan berpotensi mencemari lingkungan serta menyumbat drainase, bila dibuang secara langsung di tanah membawa dampak buruk yang signifikan bagi ekosistem tanah dan lingkungan sekitar. Kini dikumpulkan sedikit demi sedikit di sekolah untuk nantinya disalurkan ke pengolah limbah yang tepat. Dari porsi kecil di tiap rumah, akumulasi minyak jelantah ini menjadi nilai kebaikan yang nyata.
Selain jelantah, kami juga mengajak orang tua untuk memanfaatkan botol plastik bekas yang tidak terpakai di rumah. Khususnya bagi keluarga yang daerah atau dusun tempat tinggalnya belum memiliki fasilitas bank sampah aktif, botol-botol bekas tersebut tidak lagi dibakar atau dibuang sembarangan. Murid-murid membawanya ke sekolah untuk dikelola bersama.
Menumbuhkan Rasa Memiliki dan Tanggung Jawab
Melalui program ini, ada beberapa nilai penting yang berhasil kita tanamkan bersama:
- Pendidikan Karakter Sejak Dini: Anak-anak belajar bahwa barang bekas yang dianggap "sampah" ternyata masih memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan benar.
- Sinergi Orang Tua dan Sekolah: Orang tua wali tidak hanya menjadi penonton, tetapi berperan langsung dalam mendukung pendidikan ekologi anak dari dapur rumah mereka sendiri.
- Karakter Sedekah dan Empati: Mengajarkan bahwa bersedekah tidak harus selalu dengan uang nominal besar, tetapi bisa lewat kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
- Pengembangan Sekolah: dari hasil sedekah minyak jelantah dan botol bekas, untuk pengembangan pembelajaran dan sarana prasarana sekolah.
Komitmen terhadap sampah bukanlah tentang melakukan tindakan instan yang besar dalam sekali jalan, melainkan tentang konsistensi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara rutin. Dengan keterlibatan aktif orang tua wali murid, gerakan ini membuktikan bahwa dari dua sendok makan minyak jelantah dan sebotol plastik bekas, kita sedang menanamkan benih kepedulian lingkungan yang akan terus tumbuh dalam diri generasi penerus.
Komitmen tentang pengelolaan sampah ini sudah saya unggah dalam media sosial yang saya miliki melalui chanel You Tube: https://youtu.be/SrqX9eT6pcE?si=nda8QHw9GLQqpPNZ
Komentar
Posting Komentar