ESSAI 1 – MERINGKAS JURNAL PENGELOLAAN SAMPAH RESUME JURNAL DENGAN JUDUL: PEMANFAATAN GALON BEKAS MENJADI POT TANAMAN DALAM RANGKA PENGHIJAUAN
ESSAI 1 –
MERINGKAS JURNAL PENGELOLAAN SAMPAH
RESUME JURNAL
DENGAN JUDUL: PEMANFAATAN GALON BEKAS MENJADI POT TANAMAN DALAM RANGKA
PENGHIJAUAN
Nama: Lilis Fajar
Kurniati
NIM: 25310410042
Psikologi
Lingkungan / Kelas: Karyawan (B)
Tugas Essai 1 – Meringkas
Jurnal Pengelolaan Sampah
Dosen Pengampu:
Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Identitas Jurnal:
Judul Asli:
Kampung Cerdas Lingkungan: Pemanfaatan Galon Bekas Menjadi Pot Tanaman dalam
Rangka Penghijauan di RW 07 Sudimara Barat, Tangerang
Penulis: Tim
Pengabdian JIPPM
Topik:
Pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan barang bekas menjadi pot
Sumber: Jurnal
Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol.6 No.2, Agustus 2026, Hal
447-454
DOI: https://doi.org/10.54082/jippm.1425
Link: https://jippm.publications.id
Latar Belakang:
Penelitian ini
didasari oleh fenomena meningkatnya sampah plastik rumah tangga khususnya galon
bekas yang tidak terpakai dan minimnya ruang terbuka hijau di pemukiman padat.
Di RW 07 Sudimara Barat terdapat sekitar 250 KK yang mengalami masalah
tersebut. Banyak galon bekas yang awalnya hanya menjadi limbah dan tidak
memiliki nilai jual. Jika dilihat dari kacamata psikologi lingkungan,
lingkungan yang kotor dan minim tanaman dapat mempengaruhi kenyamanan dan
kesehatan mental warga. Peneliti kemudian melihat potensi bahwa limbah tersebut
bisa diubah menjadi pot tanaman yang berguna dan bernilai ekonomis. Hal ini
sejalan dengan konsep reuse atau menggunakan kembali barang bekas. Menurut
teori pemberdayaan, masyarakat perlu diberi kebebasan dan tanggung jawab untuk
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agar lebih mandiri.
Tujuan Penelitian:
Tujuan utama dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pemberdayaan
masyarakat melalui pemanfaatan galon bekas menjadi pot tanaman, serta untuk
mengurangi sampah plastik, meningkatkan penghijauan tingkat rumah tangga, dan
meningkatkan partisipasi warga.
Metode Penelitian:
Jenis penelitian
ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode pengabdian masyarakat.
Sumber data adalah warga RW 07. Teknik pengumpulan data melalui observasi
lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Tahapannya meliputi sosialisasi, demonstrasi pembuatan pot, distribusi
pot, dan monitoring.
Hasil:
Berdasarkan hasil dari jurnal, kegiatan ini berhasil mencapai target
utama. Sebanyak 170 galon bekas berhasil diolah dan didistribusikan menjadi pot
tanaman, yang terdiri atas 85 pot untuk RT 01 dan 85 pot untuk RT 02. Hasil
monitoring menunjukkan pot yang telah didistribusikan mulai dimanfaatkan untuk
penanaman dan sebagian tanaman telah menunjukkan pertumbuhan awal berupa munculnya
kecambah. Keterlibatan warga dalam menerima, menggunakan, dan merawat pot
menunjukkan adanya partisipasi aktif dari masyarakat. Program ini juga
memberikan manfaat berupa peningkatan nilai guna galon bekas yang sebelumnya
menjadi limbah menjadi sarana yang dapat digunakan untuk kegiatan penghijauan.
Edukasi yang diberikan membantu warga memperoleh pengetahuan dasar mengenai
penanaman. Namun peningkatan kesadaran ekologis secara kuantitatif belum dapat
disimpulkan karena belum dilakukan pengukuran melalui instrumen evaluasi
sebelum dan sesudah kegiatan. Oleh karena itu, keberlanjutan manfaat program
sangat bergantung pada konsistensi warga dalam merawat tanaman.
Analisis Psikologi Lingkungan:
Jika saya analisis, program ini sangat relevan dengan Teori Perilaku
Pro-Lingkungan. Warga tidak hanya diberi pengetahuan, tapi langsung diberi
fasilitas berupa pot gratis, sehingga hambatan untuk berperilaku hijau menjadi
hilang. Selain itu ada aspek sense of ownership atau rasa memiliki, ketika
warga merawat tanaman dari barang bekas miliknya sendiri, ia merasa bertanggung
jawab. Ini dapat meningkatkan self-efficacy. Lingkungan yang asri juga sesuai
dengan Attention Restoration Theory dari Kaplan yang mengatakan tanaman hijau
dapat mengurangi stres dan kelelahan mental akibat rutinitas kerja sebagai
karyawan.
Refleksi dan Kaitan dengan Pengalaman di Desa Saya:
Jika dikaitkan dengan pengalaman pribadi saya, apa yang dibahas dalam
jurnal ini sangat relevan dengan apa yang sedang kami lakukan di desa saya di
Sleman. Saat ini di desa saya juga sedang melakukan program pemanfaatan galon
bekas menjadi pot tanaman dan pembuatan pupuk kompos dari sisa makanan, tetapi
program ini baru berjalan sekitar 1 bulan.
Awalnya warga masih membuang sisa nasi dan kulit buah begitu saja.
Setelah ada sosialisasi dari karang taruna, kami mulai mengumpulkan galon bekas
dan ember cat bekas untuk dijadikan pot cabai, tomat, dan terong di halaman
rumah. Selain itu sisa makanan seperti nasi basi, kulit buah, dan sayuran kami
kumpulkan di ember komposter untuk dijadikan pupuk organik. Pupuk tersebut kami
gunakan kembali untuk menyuburkan tanaman di pot galon, jadi siklusnya saling
terhubung dan menerapkan prinsip zero waste.
Dari pengalaman 1 bulan ini saya belajar bahwa perubahan perilaku memang
butuh proses. Masih ada warga yang malas menyiram, tapi ketika melihat tanaman
tetangga sudah tumbuh subur, mereka jadi termotivasi untuk ikut merawat. Ini
sesuai dengan Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura, bahwa manusia belajar
dengan melihat contoh keberhasilan orang lain. Program ini juga meningkatkan
kebersamaan dan interaksi sosial antar warga karena sering bertukar bibit dan
pupuk.
Kesimpulan:
Kesimpulan dari jurnal dan pengalaman saya adalah pemberdayaan melalui
pemanfaatan galon bekas menjadi pot tanaman adalah contoh nyata reuse yang
sederhana tapi efektif. Tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga membuat
lingkungan lebih asri dan melatih tanggung jawab. Keberhasilannya bergantung
pada konsistensi warga dalam merawat tanaman. Menurut saya, model seperti ini
sangat bisa diterapkan secara luas di lingkungan perumahan padat di Yogyakarta.
Selain itu, saya berharap program di desa saya di Sleman yang baru berjalan 1 bulan ini bisa terus berlanjut, tidak hanya berhenti setelah tanaman tumbuh saja. Harapannya pembuatan pupuk dari sisa makanan bisa mengurangi sampah dapur sekaligus menghemat biaya beli pupuk. Untuk penelitian selanjutnya, mungkin bisa ditambahkan pengukuran kesadaran lingkungan warga dengan kuesioner sebelum dan sesudah program agar hasilnya lebih terukur secara psikologis.

Komentar
Posting Komentar