Ni Putu Pradnya Krishna Sari_24310410219_B_Psikologi Lingkungan_Tugas Ke 1 (Satu)_Dr. Arundati Shinta M.A.


Sampah, 
 Hierarki Sosial, dan Ilusi Kepedulian Lingkungan Kita.


"Kita tidak membutuhkan segelintir orang yang melakukan Peduli Sampah dengan sempurna. Kita membutuhkan jutaan orang yang melakukannya dengan tidak sempurna."

— Anne Marie Bonneau (Pakar Zero Waste)


Persoalan sampah perkotaan di Indonesia seringkali disederhanakan secara sempit hanya sebatas teknis pembuangan. Padahal, akar permasalahan ini sangat erat berkaitan dengan perilaku dan konstruksi mental masyarakat kita. Salah satu isu krusial dalam psikologi lingkungan adalah bagaimana individu dapat memproses tanggung jawab pribadi terhadap sampah domestik di tengah minimnya dukungan sosial. Tulisan ini berfokus pada perilaku individu mengelola sampah dan bagaimana tingkat kepedulian lingkungan masyarakat mencakup dalam konsistensi tindakan memilah, mengolah dan memperlakukan sampah dengan bijak.

Di dalam tinjauan teoretis, sering kali ditemukan adanya kesenjangan antara sikap positif seseorang dan realisasi dalam tindakan nyatanya. Hambatan psikologis terbesar masyarakat kita muncul dari konstruksi sosial budaya yang sudah melabeli urusan kotoran dan sampah sebagai ranah marginal. Adanya bias psikologis yang kuat dalam masyarakat memandang aktivitas yang melibatkan Sampah sebagai “pekerjaan kelas bawah”, contohnya seperti tugas pemulung atau petugas kebersihan formal. Stigma sosial ini membuat  seseorang merasa bahw mengurusi atau memilah sampah sendiri adalah hal yang menurunkan gengsi, repot, atau membuang waktu. Akibatnya, masyarakat kita cenderung bersikap apatis dan melimpahkan seluruh tanggung jawab lingkungan pada pekerja di sektor tersebut.

Isu ini sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti kesadaran diri, serta faktor eksternal berupa penyesuaian diri terhadap kebiasaan kelompok sosial di sekitarnya. Ketika lingkungan sosial sekitar terbiasa untuk mengabaikan masalah pengelolaan sampah dan juga melanggengkan pandangan bahwa sampah adalah urusan jelas pekerja bawah, individu cenderung akan menyesuaikan dirinya agar tidak dianggap berbeda atau dinilai “turun kelas”. Bahaya dalam ego sosial dan gengsi kelompok ini mampu mengalahkan tanggung jawab moral terhadap kesinambungan alam. Oleh karena itu, masyarakat harus disadarkan bahwa kepedulian lingkungan adalah kewajiban universal bukan hierarki sosial. Kesimpulan dari penulisan ini menegaskan bahwa keberhasilan penanganan sampah menuntut adanya transformasi perilaku kolektif. Transformasi ini harus dimulai dari menghilangkan stigma kelas terhadap pekerjaan sampah, peningkatan kesadaran individu, serta penguatan norma sosial baru yang memandang pengelolaan sampah secara hormat demi keseimbangan dan keselamatan lingkungan bersama.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai 1_Review Jurnal_Psi Lingkungan_Muhamad Ridho Rasyidin_25310410005